3 Tips Berinteraksi Aman Selama Proses Ta’aruf Hingga Hari Pernikahan

Interaksi-aman-selama-ta'aruf

Setiap pasangan menginginkan pernikahan yang penuh berkah, baik dari awal proses yang dijalani hingga menuju pernikahan. Tentunya proses yang diawali dengan ta’aruf, dan diihktiarkan sesuai dengan syar’I dalam menjalani ta’aruf sampai kepernikahan. Untuk itu, agar bisa menjalani ta’aruf agar bisa berinteraksi dengan pasangan. Jadi dalam artikel ini akan memberikan 3 tips aman selama proses ta’aruf hingga hari pernikahan. Berikut ini ulasanya.

1. Merahasiakan proses

merahasiakan-ta'aruf
image. via ayo-bagikan.blogspot.com

“Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan.”  [HR. Ath Thabrani]

Pinangan dianjurkan untuk dirahasiakan, apalagi proses ta’aruf yang mendahului proses pinangan tersebut. Berlanjutnya proses ta’aruf bukan jaminan kelak berlanjut hingga pernikahan, sehingga untuk menjaga dari rasa malu dan jadi bahan pembicaraan seandainya kelak proses tidak berlanjut, maka rahasiakanlah proses ta’aruf yang dijalani.

2. Menjaga hati

menjaga-hati
image. via www.maxmanroe.com

 

“Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu, kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.”  [HR. Muslim]

Adanya kecenderungan hati dalam proses ta’aruf tak bisa dihindarkan, meskipun dirasakan dengan kadar yang berbeda-beda oleh setiap orang. Rasulullah pun menganjurkan salah seorang sahabatnya untuk melihat siapa yang akan dilamarnya, agar menemukan sisi-sisi manusiawi yang membuat hati cenderung kepadanya, sehingga semakin yakin dan semakin mantap untuk menikahinya. Meskipun demikian, sebelum akad nikah terucap pihak yang berta’aruf tetaplah dua insan lawan jenis yang terbatasi oleh syariat. Bahkan setelah khitbah hingga sepersekian detik menjelang akad nikah terucap, syariat tetaplah membatasi, baik itu dari pola interaksi, komunikasi, dan pengekspresian rasa yang ada di hati.

3. Berkomunikasi Seperlunya

berkomunikasi
image. via www.thebinde.com

“Witing tresno jalaran soko kulino.”

Pepatah Jawa yang kurang lebih artinya “cinta tumbuh karena terbiasa” ini cukup erat kaitannya antara tips ketiga ini dan tips kedua di atas. Beda rasanya apabila komunikasi dilakukan dengan rekan kerja atau rekan satu organisasi tanpa ada hubungan spesial, dibandingkan dengan komunikasi antara dua insan yang sedang berta’aruf sehingga memerlukan penyikapan khusus. Semakin sering berkomunikasi, maka akan semakin meningkat pula kadar kecenderungan hati yang dirasakan dari dua lawan jenis yang bertautan hati.

Semakin besar kadar kecenderungan hati yang dirasa, maka akan semakin susah mengontrol hati tersebut. Pelibatan mediator sebagai perantara komunikasi bisa dipilih agar komunikasi bisa berjalan aman, sehingga ada pihak yang bisa mengingatkan sekaligus menyaring hal apa saja yang perlu dikomunikasikan dan tidak perlu dikomunikasikan selama proses ta’aruf.

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait