4 Alasan Ini Bahwa Anak Itu Bukan Sebagai Sarana Investasi

memeluk-anak

Sadar atau tidak, kita para orang tua itu sering memperlakukan anak sebagai sarana investasi di masa depan. Orang tua berharap anaknya kelak menjadi seseorang yang sukses dan kita sebagai orangtua akan memperoleh “keuntungan” dari kesuksesan itu. Bahkan tak jarang hal itu pun diungkapkan oleh para orang tua, mereka rela mengeluarkan uang banyak untuk sekolah anaknya, dan berharap saat anak-anak mereka sukses di masa depan, maka semua akan kembali dengan jumlah yang jauh lebih banyak.

Miris yah!

Tapi, begitulah yang terjadi dan itulah pola pikir orang tua kebanyakan. Tidak bisa disalahkan, tetapi juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Karena perlakukan orang tua yang seperti itu akan menimbulkan kekerasan mental pada anak.

Hal seperti ini seringkali terjadi karena alasan berikut:

1. Menganggap anaknya adalah miliknya sepenuhnya

mengajarkan-apa-itu-gajet
imgae. via www.ppgsidoarjo.org

Orang tua menganggap anaknya adalah miliknya sepenuhnya, sehingga mereka bebas membentuk anaknya sesuai dengan keinginan mereka. Mulai dari menentukan sekolah, mengarahkan cita-cita, dan menempatkannya dalam sebuah pekerjaan yang menurut orang tua “terbaik”. Dari alasan ini kita bisa melihat betapa kebebasan anak pada masa ini sangat terbelenggu.

2. Harus berbakti dan menuruti apa kata orang tua

berbakti-pada-orangtua
image. via www.gbi-bethel.org

Anak harus berbakti dan menuruti apa kata orang tua jika tak ingin disebut anak durhaka. Ya, pola pikir semacam ini seringkali diterapkan oleh orang tua kepada anak, dan anak pun mengamini hal itu karena ada rasa takut akan dosa jika ia tak melakukannya. Padahal pada kenyataannya tidak semua yang diperintahkan orang tua adalah hal yang terbaik.

3. Merasa jauh lebih berpengalaman

anak-sayang-pada-orangtua
image. via adarmalenggana.wordpress.com

Orang tua merasa jauh lebih berpengalaman dan lebih “pintar” dari anak. Memang sih kadang ada benarnya juga kalau orang tua hidup jauh lebih lama dan otomatis pengalamannya juga lebih banyak, tapi ingatlah bahwa tidak semua orang yang memiliki pengalaman lebih banyak itu bisa lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

4. Pilihan mereka adalah yang “terbaik”

menjadi-madrasah-bagi-anak
image. via kknawa.wordpress.com

Orang tua selalu merasa bahwa pilihan mereka adalah yang “terbaik” untuk masa depan anak-anaknya. Memang tak salah, hanya saja dalam menentukan pilihan, banyak orang tua mungkin jarang menanyakan apa yang sebenarnya diinginkan oleh anak-anaknya.

Karena alasan-alasan di atas, anak akhirnya selalu dijadikan komoditas investasi hari tua orangtua mereka. Karena anak harus membawa nama baik orangtua, seolah-olah anak tidak memiliki kebanggaan sendiri akan diri mereka. Jadi dibandingkan dengan kekerasan fisik, kekerasan mental tak serta merta segera mengundang perhatian.

Untuk menghindari hal-hal semacam itu dan menjadikan anak sebagai investasi orang tua, maka sebaiknya orang tua menjadi sosok yang bijaksana, dan mampu bersikap demokratis kepada anak-anak mereka, karena pada dasarnya tugas orang tua itu bukan menjadikan mereka seseorang yang sukses, melainkan menjadikan mereka manusia yang bijak dan dapat menikmati hidup mereka dengan baik. Apa jadinya jika kelak mereka sukses dan kaya berlimpah, namun menempatkan orang tua mereka di panti jompo? Apa jadinya jika mereka kelak sukses tapi hanya hasil korupsi karena untuk memenuhi tuntutan orang tua mereka yang menginginkan mereka untuk menjadi “sukses”?

Jadi, alangkah baiknya jika kita bisa memberikan hak mereka sebagai manusia merdeka seutuhnya, dan menuntun mereka dalam kebaikan yang tak hanya menurut kita saja, tetapi juga menurut mereka.

Simak juga “5 Ungkapan Cinta Inilah yang Harus Kamu Katakan Pada Anak-anakmu Setiap Hari

Simak juga “4 Cara Jitu Untuk Membangun Motivasi Anak Sejak Dini

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait