7 Hal Ini Biasa Memicu Pertengkaran Dalam Rumah Tangga

rumah-tangga-bahagia

Menikah itu bukan goal atau tujuan akhir dalam sebuah hubungan sepasang manusia. Melainkan awal dari hubungan sepasang manusia yang kelak akan memiliki keturunan dan melanjutkan generasi masa depan, dengan visi dan misi yang telah dibuat di awal hubungan. Sebagai sebuah awal pelayaran mengarungi lautan kehidupan, maka dalam pernikahan kita akan menghadapi banyak badai yang akan menerpa.

Jadi, pernikahan itu tidak akan selalu berjalan dengan indah, akan ada saja cobaan yang harus diatasi dan ditaklukan, namun jangan sampai melupakan kebahagiaan yang akan selalu hadir dalam kehidupan ini.

Nah, berikut ini ada 7 hal dasar yang biasanya menjadi pemicu pertengkaran dan masalah di dalam rumah tangga.

1. Pelampiasan masalah yang salah tempat

pelampiasan
image. via www.ukhtiindonesia.com

Saat seseorang telah memutuskan untuk menikah, pada umumnya mereka telah memiliki pekerjaan, dan seorang yang bekerja akan sangat mungkin mengalami stress dan tekanan di kantornya. Namun sayangnya, mereka yang tidak bisa membedakan mana masalah kantor dan keluarga, justru meluapkan permasalahan kantor kepada keluarganya yang tak tau menau apa yang sedang dialaminya di kantor. Hal ini lah yang sebenarnya tanpa sadar sering dilakukan oleh pasangan suami istri, menumpahkan kekesalan pada pasangan atau bahkan anak di rumah.

Alangkah baiknya jika ini terjadi, salah satu pihak mau menyadari apa yang sebenarnya terjadi, dan sama-sama saling sharing agar beban pikiran tidak ditanggung sendiri. Semisal suami yang jadi emosian karena tekanan pekerjaannya, maka seorang istri harus menenangkannya dan menjadi sandaran yang menenangkan.

2. Posesif

kejujuran
image. via www.isikulkas.com

Sikap posesi memang perlu ada, karena jelas kita juga ingin tahu apa yang sebenarnya dilakukan oleh pasangan kita di luar rumah. Tapi, tidak perlu terlalu intens juga dihubungi, karena hal itu hanya akan membuat pasangan merasa dicurigai dan tidak mendapatkan kepercayaan.

Jadi, cobalah untuk menerapkan system kejujuran dalam rumah tangga. Itu artinya, suami dan istri harus saling terbuka dalam hal apapun, karena setelah menikah kehidupan itu memang antara kalian, bukan masing-masing.

3. Memendam masalah

memendam-masalah
image. via bahasa.aquila-style.com

Memendam masalah dengan alasan apapun adalah salah satu tindakan yang akan memberikan efek buruk di kemudian hari. Mungkin seorang suami takut mengungkapkan satu masalah karena takut adanya pertengkaran, begitu juga sebaliknya jika istri memilih diam saja saat ada masalah dan enggan untuk mempublishnya pada suami.

Namun pada kenyataannya itu bukanlah satu solusi yang efektif untuk menghilangkan masalah. Karena masalah itu akan tetap ad ajika tidak diselesaikan dengan tuntas, dan tidak menutup kemungkinan justru masalah itu akan menjadi bom atom yang akan meledak dengan dasyat di kemudian hari.

4. Bergosip dan sharing dengan teman

sharing
image. via ask.fm

Saat dua orang sudah memutuskan untuk membina rumah tangga, maka hal yang terpenting yang harus mereka lakukan adalah menutup komunikasi intens seputar masalah pribadi dengan orang lain. Misalnya saja saat pacaran dulu masih suka curhat kepada teman atau bahkan keluarga, maka saat sudah menikah hal ini sebaiknya dihindari. Karena membuka masalah keluarga pada orang lain sama halnya dengan membuka aib diri sendiri.

Dan perlu diingat, tak semua orang benar-benar simpati dan bisa empati dengan apa yang kita alami, karena sebagian bahkan hanya penasaran saja dengan apa yang sedang kita alami.

Jadi, berhati-hatilah dalam membicarakan hal sesensitif seputar masalah rumah tangga dengan teman. Jangan sampai kita membeberkan sisi negatif pasangan kita pada orang lain. Karena aib pasangan adalah aib kita juga.

5. Enggan untuk mendengarkan pasangan

saling-mendengarkan
image. via lukihermanto.com

Saling mengerti diantara sepasang suami istri itu diawali dengan adanya kemauan untuk saling mendengarkan satu sama lain. Jadi jangan pernah lelah untuk mendengarkan pasangan kita, apapun yang dibicarakannya. Karen ajika kita sudah malas mendengarkan pasangan, maka yang kemudian muncul adalah perasaan diabaikan dan tak diperhatikan. Padahal komunikasi adalah salah satu kunci yang harus terus dilakukan secara lancar agar hubungan tetap harmonis.

6. Salah satu pihak terlalu mendominasi

keluarga-bahagia
image. via lukihermantofotografix.wordpress.com

Setelah dua orang memutuskan untuk menikah, maka tak ada lagi kata kamu atau aku, karena hubungan suami dan istri adalah mengenai kita. Jadi, jangan sampai salah satu pihak mendominasi, membuat semua keinginannya dipenuhi dan mengabaikan keinginan pihak lainnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita yang memutuskan untuk menikah, harus sudah mampu menguasai ego dan menekannya, agar tidak menjadi pasangan yang merampas hak pasangannya di kemudian hari.

7. Susah move on dari kesalahan

wanita-muslimah-sendiri
image. via www.pinterest.com

Setiap orang pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, hal ini terjadi sebagai suatu proses pembelajaran yang berarti dalam hidupnya. Jadi, usahakan agar kita bisa segera move on dari kesalahan dengan cara komunikasi dan membicarakan apa yang salah menurut kita pada saat itu, lalu mau memperbaikinya pada saat itu. Dan setelahnya kita tak perlu mengungkitnya lagi.

Pada intinya dalam sebuah rumah tangga komunikasi merupakan kunci dari penyelesaian segala permasalahan ini. Dan hal ini hanya dapat diselesaikan oleh pasangan suami istri, bukan orang lain.

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait