Ali dan Fatimah, Kisah Cinta Sepasang Insan Mulia

kisah-cinta-ali-dan-fatimah

Ali tak lain adalah seorang anak dari Abi Thalib, paman Nabi Muhammad Rasullullohullah Saw. Jadi, dengan kata lain Ali adalah sepupu Rasullulloh. Dalam kisahnya diketahui bahwa Abi Thalib sangat sayang kepada Rasullulloh, karena sepeninggal orang tua Rasullulloh, Abi Thalib lah yang merawat Rasullulloh bahkan selalu membela Rasullulloh dalam memperjuangkan dakwah Islam walaupun pada ajalnya Abi Thalib wafat bukan sebagai muslim yang tentu saja membuat Rasullulloh sangat sedih.

Maka setelah kematian orang tuanya, Ali sejak kecil tinggal bersama Rasullulloh. Ali tumbuh menjadi seorang pemuda yang gagah, tampan, kuat dan cerdas. Bahkan Rasullulloh pernah berkata jikalau Rasullulloh adalah sebuah gudang ilmu maka Ali adalah gerbang untuk memasuki gudang tersebut.

Lalu, siapakah Fatimah?

Fatimah az-Zahra tak lain adalah putri kesayangan Rasullulloh dari pernikahan beliau dengan Siti Khadijah binti Khuwailid. Ketika Khadijah meninggal, Rasullulloh sangat sedih, begitu pula dengan Fatimah, putri mereka. Namun, Fatimah adalah perempuan yang tegar, baik, lembut, dan  cantik. Sebagai seorang anak yang berbakti pada ayahnya, Fatimah juga yang mengurus Rasullulloh sejak Khadijah meninggal dunia sampai Rasullulloh akhirnya memutuskan untuk menikah lagi. Sampai suatu ketika, menjelang Rasullullohlulloh wafat, Fatimah menjadi orang yang sangat sedih.

Sejak Ali ikut tinggal bersama Rasullulloh dan keluarganya, otomatis Ali tinggal bersama Fatimah. Mereka berdua tinggal dan melewati setiap hari bersama sejak mereka kecil. Hingga akhirnya pada saat remaja, Ali merasakan cintanya kepada Fatimah. Tapi Ali adalah pemuda yang beriman. Ali berusaha untuk selalu menjaga hatinya agar tidak tergoda hawa nafsu. Ia pendam rasa cinta itu selama bertahun-tahun. Ia pun mencintai Fatimah dalam diam.

Hingga akhirnya ketika Ali dewasa dan siap untuk menikah, maka Ali pun berniat menghadap Rasullulloh dengan tujuan ingin melamar putri Rasullulloh. Tapi sayang, niat Ali telah didahului oleh Abu Bakar yang sudah duluan melamar Fatimah. Ali pun harus ikhlas bahwa cintanya selama ini berakhir pupus. Mengingat Abu Bakar adalah sahabat setia Rasullulloh yang sangat shalih dan begitu sayang kepada Rasullulloh, dan Rasullulloh pun menyayanginya. Ali merasa dirinya hanya seorang  pemuda yang miskin.

Namun rencana Allah memang sulit ditebak oleh manusia, ternyata Rasullulloh hanya diam ketika Abu Bakar melamar Fatimah dan menolak secara halus lamaran Abu Bakar. Ali pun senang. Karena masih merasa memiliki kesempatan melamar Fatimah. Maka Ali pun bergegas ingin segera melamar Fatimah sebelum didahului lagi.

Namun lagi-lagi Ali didahului, kali ini oleh Umar. Ali sangat bersedih, ia merasa tak ada harapan lagi. Ali hanya bisa berdoa kepada Allah, semoga dikuatkan dengan derita cinta yang sedang dialaminya. Kali ini, Ali harus benar-benar ikhlas dan tegar menghadapi kenyataan itu. Namun Ali adalah pemuda yang shalih. Ia pun yakin bahwa Allah Maha Adil. Pasti Allah sudah mempersiapkan seorang pendamping hidup baginya.

Disaat Ali merasakan derita cintanya, kemudian datanglah Abu Bakar dengan senyum indahnya. Dan memberitahu Ali untuk segera bertemu dengan Rasullulloh karena ada yang ingin beliau sampaikan. Ali mulai berpikir tentang pernikahan Umar dengan Fatimah yang akan diberitahukan pada Ali. Banyak prasangka yang uncul dari hati Ali yang semakin galau. Namun ia tetap berusaha menyemangati dirinya sendiri agar kuat dan tegar.

Namun siapa yang bisa menebak rencana Allah, karena tak disangka, lamaran Umar bernasib sama dengan lamaran Abu Bakar. Rasullulloh menginginkan Ali untuk menjadi suami Fatimah. Karena Rasullulloh sudah lama tahu bahwa Ali telah lama memendam rasa cinta kepada putrinya. Ali pun sangat bahagia dan bersyukur. Ia pun langsung melamar Fatimah melalui Rasullulloh. Tapi, Ali malu kepada Rasullulloh karena ia tak memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar. Apalagi ia selama ini dihidupi oleh Rasullulloh sejak kecil.

Namun, Rasullulloh berkata bahwa nikahilah Fatimah walaupun hanya bermahar cincin besi. Ali pun menyerahkan baju perangnya untuk melamar Fatimah. Akhirnya Ali menikah dengan Fatimah, perempuan yang telah lama ia cintai.

Namun di malam pertama, Fatimah membuat sebuah pengakuan pada Ali sebagai wujud kejujurannya dan tidak mau menutupi suatu apapun pada suaminya itu. Fatimah menceritakan bahwa sebelum menikah dengan Ali, Fatimah sudah memendam cinta pada seorang pemuda. Hal itu jelas membuat Ali kaget setengah mati. Namun karena pengertiannya dan cintanya pada Fatimah, Ali yang belum menyentuh Fatimah pun membebaskan Fatimah, karena ia tak ingin Fatimah merasakan kesedihan dan terpaksa saat menikah dengannya. Hingga air mata seolah tak bisa ditahan oleh Ali, begitu juga Fatimah yang tak kuasa menahan tangis bahagia dengan sikap Ali.

Hingga akhirnya Ali mendesak Fatimah dengan halus agar mau memberitahu siapakah pemuda itu. Dan tanpa di duga, Fatimah memberitahu bahwa pemuda itu adalah Ali. Ali pun sangat bahagia mendengar pernyataan Fatimah yang semula ternyata hanya berniat menggoda suaminya itu. Namun tak disangka rasa cinta Ali yang tulus dan tak mau menyakiti Fatimah justru menunjukkan betapa cinta sejati itu sangat tulus.

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait