Apakah Seorang Laki-laki Pendosa Bisa Berharap Menikahi Wanita Yang Berakhak Baik Dan Taat Ibadah?

menikahi wanita shalihah

Pertanyaan:

Assalamu’ alaikum wr wb,

Saya ingin bertanya, apakah seseorang laki-laki yang tidak baik akhlaknya (Pendosa) bisa berharap untuk menikahi atau dipertemukan dengan wanita yang berakhlak baik serta Taat Ibadah?

Terima kasih

Jawaban:

Wa ‘alaikumus salam wa rahmatullah
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Ada empat model pasangan suami istri yang di jelaskan di dalam Al-qur’an, dan tiga dari empatnya (diluar suami dan istri sama sama beriman baik) yaitu :

Suami : Beriman (Baik) ; Istri : Kafir (Buruk) yaitu pasangan Nabi Luth dan Nabi Nuh dalam surat At-Tahrim[66]: 10.

“Allah membuat istri nabi nuh sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah ikatan pernikahan dengan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba kami. lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suami mereka, maka kedua suami mereka itu tidak dapat membantu mereka sedikitpun dari siksa Allah, dan dikatakan kepada keduanya: ‘masuklah kalian berdua ke dalam neraka bersama orang-orang yang masuk neraka’.” (At-Tahrim[66]: 10)

Allah menakdirkan istri kedua nabi yang mulia ini justru tidak menerima dakwah suami mereka. padahal keduanya adalah belahan jiwa yang saling melengkapi, saling menemani dan mendampingi. kedua istri ini mengkhianati suami mereka dalam perkara agama, karena keduanya beragama dengan selain agama yang diserukan oleh suami mereka. keduanya enggan menerima ajakan kepada keimanan bahkan tidak membenarkan risalah yang dibawa suami mereka.

Suami : Kafir (Buruk) ; Istri : Beriman (Baik) yaitu pasangan Firaun dengan Asiyah binti Muzahim dalam surat At-Tahrim [66]: 11

Lalu diayat selanjutnya kita temukan perumpamaan lain tentang suami yang tidak baik (fasik) dengan istri yang solehah salah satunya adalah Asiyah binti Muzahim, istri fir’aun. Walau berada dalam kekuasaan Fir’aun, Asiyah mampu menjaga akidah dan harga dirinya sebagai seorang muslimah. Asiyah lebih memilih istana di surga daripada istana di dunia yang dijanjikan Fir’aun. Allah mengabadikan doanya, dan Allah menjadikan perempuan Fir’aun teladan bagi orang-orang beriman, dan ia berdoa, ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya dan selamatkan aku dari kaum yang zalim (At-Tahriim [66]: 11)

Bagi kita mungkin Firaun merupakan pria yang jahat, namun kisah Asiyah ini di Abadikan dalam Quran. Allah menjadikan Firaun merupakan pribadi yang “baik” bahkan sangat “baik” bagi Asiyah karena secara logis membuat Asiyah menjadi wanita yang ditinggikan derajatnya. Ia tetap dapat menjaga akidahnya, dari fitnah besar suaminya. Dalam hal ini baik tidak baik terlihat sekali, tentang suami soleh atau zalim, yaitu dalam hal Aqidah.

Suami : Kafir (Buruk) ; Istri : Kafir (Buruk) yaitu Abu lahab dan istrinya Arwa binti Harb dalam surat Al-Lahab[111]: 1-5
Suami : Beriman (Baik) ; Istri : Beriman (Baik) yaitu Rasulullah dan Khadijah, Ibrahim dan Sarah
Sungguh membahagiakan jika suami dan istri kita adalah sosok ideal yang kita harapkan. Tetapi jika kita telah menikah dan suami atau istri kita tak seideal yang kita harapkan, kebahagiaan itu ada pada sikap kita. Ada nasehat bijak mengatakan, jika suami kita tak seburuk Fir’aun, tidak bolehkah kita menjadi perempuan semulia Asiyah.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pun menganjurkan memilih istri yang baik agamanya,

تنكح المرأة لأربع: لمالها ولحسبها وجمالها ولدينها، فاظفر بذات الدين تربت يداك
“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” (HR. Bukhari-Muslim)

Maka hendaknya seorang muslim berjuang untuk mendapatkan calon pasangan yang paling mulia di sisi Allah, yaitu seorang yang taat kepada aturan agama.

Jadi terkait pertanyaan pertama Saudara dan penjelasan diatas maka jawabannya Insya Allah bisa Akhi, bila Allah berkehendak demikian, tapi probabilitasnya tentu saja kecil, kita juga harus melihat dari sisi calon istri kita, akankan dia bersedia menjadi calon istri bila kita calon suaminya tidak baik akhlaknya (Pendosa) sedangkan dia wanita yang berakhlak baik serta taat Ibadah, dan juga apakah walinya ikhlas menikahkan anaknya dengan kondisi diatas? Sedangkan mereka pun akan mencari calon suami yang bagus agamanya sesuai sabda nabi diatas.

Kecuali calon suami sudah bertaubat dari hal-hal yang tidak baik dan bersungguh-sungguh untuk menjadi muslim yang taat beribadah dan berakhlas mulia, maka probabilitas semakin besar untuk mendapatkan wanita yang solehah.

Semoga jawabannya bisa membantu

Wallahu a’lam bish-showabi

Artikel Terkait