Ayah Maupun Saudara Laki-Laki Tidak Mau Menjadi Wali Nikah, Padahal Kami Berdua Sudah Sangat Ingin Menikah. Bagaimana Solusinya?

Sudah Ingin Menikah tapi ayah dan kakak menolak jadi wali nikah

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr wb

Usia saya 21thn, saya berencana akan menikah dengan laki-laki yang sudah saya kenal 6thn yang lalu. Akan tetapi orang tua menolak dikarenakan lelaki tersebut belum pantas/belum layak materi untuk menikah serta ada 1 orang kakak laki-laki saya yg belum menikah. Ayah saya menolak untuk menjadi wali. Jujur kami sangat ingin menikah untuk menghindari hal yg tidak diinginkan. kakak laki-laki saya bersedia menjadi wali akan tetapi harus ada uang lamaran yg memberatkan. bagaimana solusinya ?

Jawaban :

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wabarokaatu,
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Jika orang tua melarang anaknya menikah dengan seorang lelaki dikarenakan laki-laki tersebut belum layak materi untuk menikah, padahal anaknya tersebut telah meridhoi laki-laki itu untuk menjadi suaminya, maka hal yang sebaiknya dilakukan adalah berbicara dengan baik kepada orang tua mengenai fitrah manusia untuk menikah, dan kekhawatirannya terjatuh pada fitnah syahwat karena telah ada dorongan keinginan terhadap lawan jenis. Tentunya juga keinginan menikah ini bisa mempengaruhi kualitas ibadah, baik pada wanita maupun laki-lakinya.

Allah berfirman,

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S An Nuur : 32 )

إذا جاءكم من تَرْضَوْنَ دِينَهُ وَخُلُقَهُ فأنكحوه إلا تفعلوا تكن فِتْنَةٌ فى الأرض وَفَسَادٌ عَرِيضٌ

“Jika datang kepadamu seorang yang kamu senangi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah (putrimu) dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di permukaan bumi ini.” (HR Tirmidzi: 1005, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Mukhtashor Irwaul Gholil 1/370)

Maka wajib bagi seseorang yang menjadi wali wanita, jika telah datang laki-laki yang baik agamanya dan sang wanita ridho terhadap laki-laki tersebut untuk menikahkannya.

Bagaimana jika telah berbicara baik-baik, orang tua masih bersikeras?

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ”Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?”

Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754)

Lalu ketika Beliau ditanya, “Apakah perwalian seorang putri berpindah dari tangan ayah ke anak laki-lakinya (saudara laki-laki sang putri) jika sang ayah tidak serius memilihkan suami yang sholeh. Jika datang seseorang yang melamar sang putri maka sang ayah tidak memberi perhatian kepada orang tersebut dan tidak bertanya tentang orang tersebut, atau sang ayah menjelek-jelekan putrinya tersebut dihadapan sang pelamar agar mencegah putrinya untuk menikah.”

Syaikh Utsaimin berkata, Sesungguhnya wali seorang wanita baik ayah, atau saudara laki-laki, atau paman akan dimintai pertanggungjawaban kelak di hadapan Allah pada hari kiamat. Wajib bagi sang wali untuk menunaikan amanah ini, maka jika ada seseorang yang taat beragama dan berakhlak mulia dan sang wanita ridho dengan pria tersebut maka wajib bagi sang wali untuk menikahinya. Tidak boleh sang wali mengakhirkan pernikahan sang wanita karena hal itu adalah menyelisihi amanah (yang diembankan Allah kepadanya.Bahkan hal ini merupakan khianat. Allah berfirman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَخُونُواْ اللّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُواْ أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ َاعْلَمُواْ أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Hai orang-orang beriman, janganlah kamu,mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanya sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. 8:27-28)

Begitu juga dengan sang kakak yang bersedia menjadi wali namun meminta uang lamaran yang memberatkan, hal ini juga termasuk perkara menghalang-halagi, dan jelas ini tindakan yang juga salah. Karena seperti yang sudah kami sampaikan di atas, posisinya sebagai wali merupakan amanah dari Allah SWT, dimana bila telah datang seseorang yang baik, dan wanita telah ridho padanya, maka ia wajib menikahkannya.

Oleh sebab itu, sejalan dengan hal tersebut, kami katakan bahwa barangsiapa yang melarang seorang wanita (yang dibawah perwaliannya) untuk menikah dengan seorang lelaki yang sekufu’ dengannya dan telah diridhoi oleh sang wanita, maka boleh bagi sang wanita untuk menuntut hal ini kepada hakim. Dan wajib bagi hakim untuk memenuhi permintaan sang wanita untuk menikahkannya dengan lelaki yang telah diridhoinya. Bisa dengan mewakilkan pernikahan tersebut kepada wali sang wanita yang terdekat setelah wali yang melarang pernikahan sang wanita, atau ia bertindak dengan tindakan yang menurutnya sesuai dengan syari’at.

Semoga jawabannya bisa membantu
Wallahu a’lam bish-showabi

Artikel Terkait