Bagaimana Hukumnya Bagi Calon Suami Yang Berani Menyentuh Wanita Yang Sudah Dilamarnya?

Dia berani menyentuhku

Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr wb

Ustadz/Ustadzah Ijin bertanya, apabila seorang wanita telah dilamar namun di tengah perjalanan antara lamaran dengan menikah yang jaraknya cukup lama, calon suami berani menyentuh anggota tubuh wanita calon istrinya dengan alasan khilaf, bagaimana sikap yang sebaiknya diambil oleh calon istri?terimakasih, jazaakumullah khoiron katsiir
Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wabarokaatu,

Jawaban :

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Apabila rentang antara lamaran (khithbah) dengan pernikahan ternyata cukup jauh, maka harus tetap adanya upaya untuk saling menjaga diri dalam keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. Karena dalam rentang “masa penantian” tersebut sangat mungkin muncul godaan-godaan untuk terjerumus pada pelanggaran syari”at seperti halnya calon suami khilaf menyentuh anggota tubuh calonnya ataupun godaan untuk berpaling kepada seorang calon yang lain, dan sebagainya. Namun bagi seorang mukmin tentu harus mewaspadai hal ini, sehingga senantiasa diperlukan adanya upaya diantara keduanya untuk saling berkomunikasi dan mengingatkan pada ketakwaan, berikut beberapa sikap yang sebaiknya anda ambil yaitu:

Pertama bersegeralah untuk melaksanakan Akad nikah, bicarakan dengan ayah, keluarga dan Calon suamimu, jangan di tunda terlalu lama lagi, mengingat calon suami sudah melakukan kekhilafan seperti yang anda sampaikan, di khawatirkan terjerumus ke dalam fitnah semisal zina dan lainnya, tidak ada khilaf di antara para ulama bahwa nikah dalam keadaan ini adalah wajib. Karena membentengi dan menjaga diri dari perkara haram itu wajib, sehingga dalam kondisi ini menikah hukumnya wajib. Al Qurthubi berkata:

قال علماؤنا: يختلف الحكم في ذلك باختلاف حال المؤمن من خوف العنت الزنى، ومن عدم صبره، ومن قوته على الصبر، وزوال خشية العنت عنه وإذا خاف الهلاك في الدين أو الدنيا فالنكاح حتم ومن تاقت نفسه إلى النكاح فإن وجد الطَّوْل فالمستحب له أن يتزوج. وإن لم يجد الطول فعليه بالاستعفاف ما أمكن ولو بالصوم لأن الصوم له وِجاءٌ كما جاء في الخبر الصحيح
“Para ulama kita berkata, hukum nikah itu berbeda-beda tergantung keadaan masing-masing orang dalam tingkat kesulitannya menghindari zina dan juga tingkat kesulitannya untuk bersabar. Dan juga tergantung kekuatan kesabaran masing-masing orang serta kemampuan menghilangkan kegelisahan terhadap hal tersebut. Jika seseorang khawatir jatuh dalam kebinasaan dalam agamanya atau dalam perkara dunianya, maka nikah ketika itu hukumnya wajib. Dan orang yang sangat ingin menikah dan ia memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar untuk menikah hukumnya mustahab baginya.

Melaksanakan pernikahan dengan segera apabila segala sesuatunya telah disiapkan dan dimantapkan (terutama niat dan ilmu, selain juga tidak mengabaikan kebutuhan materi) merupakan hal yang dianjurkan.

Firman Allah Subhanahu Wa ta’ala:

وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ ۚ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian] diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur[24]:32) ] Maksudnya: hendaklah laki-laki yang belum kawin atau wanita- wanita yang tidak bersuami, dibantu agar mereka dapat kawin.

Rasulullah SAW bersabda:
Wahai para pemuda, barang siapa diantara kalian telah mampu untuk kawin maka menikahlah (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Kedua Jika calon suamimu tidak memiliki sesuatu yang tidak bisa dijadikan mahar, maka ia wajib untuk isti’faf (menjaga kehormatannya) sebisa mungkin. Misalnya dengan cara Shaum, karena dalam shaum itu terdapat perisai sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih”.
Dan barang siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia shaum karena sesungguhnya shaum itu merupakan benteng (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim).
Ketiga tidak boleh sekali-kali anda menyendiri dengan calon suamimu tanpa disertai mahramnya sesuai dengan sabda rasullullah berikut :
Barang siapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak boleh sekali-kali ia menyendiri dengan seorang perempuan yang tidak disertai mahramnya, sebab nanti yang ketiganya adalah syetan (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga jawabannya bisa membantu
Wallahu a’lam bish-showabi

Artikel Terkait