Bagaimana Hukumnya Menikah Di Bulan Haji?

Menikah di bulan haji, boleh?


Pertanyaan :

Assalamu’alaikum wr wb

Saya ingin bertanya mengenai menikah dibulan haji dalam pandangan islam bagaimanakah?

Jawaban :

Wa ‘alaikum salam wa rahmatullahi wabarokaatu,
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Dalam masalah muamalah, selama tidak ada larangan dalam syariat, semuanya baik. Termasuk penentuan tanggal pernikahan atau tanggal hajatan lainnya. Bahkan kita tidak dibolehkan menghukumi ada hari sial atau tanggal sial, kecuali dengan dalil. Dan kami tidak menjumpai ada satu dalil yang menyebutkan tentang hari sial atau tanggal sial, yang selayaknya dihindari ketika hendak melakukan hajatan.

Dalam Islam tidak dibolehkan menetapkan tanggal pernikahan berdasarkan mitos-mitos tertentu. Tidak ada istilah waktu dan tanggal sial terlebih untuk melakukan kebaikan seperti pernikahan. Semua hari adalah baik. Namun ternyata ada waktu yang lebih baik dari yang lainya. Dan waktu-waktu inilah yang biasa dioptimalkan untuk berbuat kebaikan.

Begitupun dalam menentukan hari pernikahan. Salah satu waktu yang baik menurut ajaran Islam adalah ketika bulan-bulan Haram. Berikut penjelasannya.

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan yang empat itu dan perangilah kaum musyrik itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kalian semuanya; dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (Qs At taubah: 36)

Ayat tersebut menyatakan konsep waktu yang telah ditetapkan Allah yakni terdiri dari 12 bulan Qomariyah dalam setahun. Dalam bilangan bulan-bulan tersebut ada 4 bulan disebut sebagai bulan haram.
Dijelaskan Nabi Saw. dalam salah satu khutbahnya,

“Sesungguhnya zaman telah bergulir seperti saat hari ketika diciptakannya langit dan bumi. Satu tahun terdiri atas 12 bulan, dan di antaranya ada 4 bulan haram, 3 bulan berturutan yakni Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan kemudian bulan Rajab yang berada di antara Jumadil Akhir dan Sya’ban. (HR. Bukhari No. 59, HR. Muslim No. 1679)

Syaikh Abdurrohman bin Nashir as Sa’diy di dalam kitab tafsirnya Taisiir al kariimi ar Rohmaan Fii Tafsiiri Kalaami al Mannaan, mengatakan, dinamakan dengan ‘harom’ karena bertambah kehormatannya dan haramnya melakukan peperangan pada bulan-bulan tersebut.
Ibnu Abbas radhiyallohu ‘anhu saat mengomentari firman Allah tersebut mengungkapkan,

“Allah mengkhususkan 4 bulan, maka Allah menjadikannya haram dan mengagungkan kemulyaan-kemulyaannya, menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan tersebut lebih besar dan begitu pula halnya dengan amal sholeh dan pahalanya (Tafsir al Qur’an al ‘Azhim, Ibnu Katsir).

Maka jelaslah bahwa pada bulan haram ada keistimewaan dengan belasan pahala yang lebih besar manakala melakukan kebaikan.
Para ulama berselisih pendapat, diantara empat ini, mana yang paling baik. Sebagian Syafi’iyah berkata: “Yang paling baik adalah Rajab”. Tetapi pendapat ini dilemahkan oleh Imam Nawawi dan yang lainnya.
Sebagian ulama berpendapat: “Bulan Muharram”. Ini adalah pendapat Al Hasan dan dikuatkan oleh Nawawi.
Sebagian ulama berkata: ”Bulan Dzulhijjah”. Pendapat ini diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair dan selainnya. Dan inilah yang lebih kuat. Demikian, sebagaimana dinukil dalam kitab Al Latha’if, karya Ibnu Rajab Al Hambali. Saya berkata (Syaikh Ibnu Utsaimin): Pendapat ini adalah benar. Karena dalam bulan Dzulhijjah terdapat dua keistimewaan. Yaitu, Dzulhijjah termasuk bulan-bulan haji, yang padanya terdapat hari Idul Adha. Dan yang kedua, karena Dzulhijjah termasuk bulan-bulan haram.

Jadi, jangan heran sebelum dan sesudah lebaran haji artinya antara bulan Dzulqa’dah, Dzulhijjah hingga Muharram, kita mendapat banyak undangan pernikahan. Ini bulan baik untuk niat yang baik.
Bersikaplah optimis, semua tanggal pernikahan adalah baik. Tawakkal kepada Allah, dan memohon semoga Allah memberkahi pernikahan anda dan keluarga anda. Selanjutnya jadikan keluarga anda: suami – istri yang bisa bekerja sama untuk membangun taqwa kepada Allah, bekerja sama melakukan ketaatan. Semoga perjumpaan pasangan muslim di dunia akan berlanjut akan berlanjut di surga. Aamiin.

Semoga jawabannya bisa membantu
Wallahu a’lam bish-showabi

Artikel Terkait