Bagaimana Membimbing Anak Dari Keluarga Broken Home?

Mendidik Anak Dari Keluarga Broken Home

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb

Saya seorang mahasiswa sebagai anak pertama dari tiga bersaudara. Keluarga saya mengalami broken home. Saya sempat berpikir orangtua mendzalimi anak2 nya dengan meninggalkannya. Bagaimana saya harus membimbing adik2 saya? Jazakallah khayr..

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Mohon maaf sebelumnya, karena sangat telat menjawab pertanyaan Saudari..

Anak memang kerap kali jadi korban dari perceraian kedua orang tuanya. Kamu sebagai anak pertama mau tidak mau harus turut ambil andil dalam membimbing dan memdidik adik-adikmu agar mereka dapat meneruskan kehidupan ini dengan lebih bail dan menjadi anak yang sholeh dan kelak berguna bagi kehidupan keluarga, masyarakat, agama, dan negara.

Cukup banyak referensi dalam hal mendidik atau membimbing di dalam islam, dalam hal ini kami sampaikan 3 cara yaitu:

1. Tanamkan prinsip-prinsip akidah dan keyakinan seorang muslim
seperti yang diajarkan rasul kepada abdullah bin ‘Abbas (anak pamannya yang saat itu masih berumur sekitar 13 tahun)
عن بن عباس قال كنت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فقال ثم يا غلام إني أعلمك كلمات احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف. رواه أحمد والترمذي
“Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda kepadaku: ‘Wahai nak, sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat: Jagalah (syariat) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syariat) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.’” (Riwayat Ahmad, dan At Tirmizy).
Prinsip-prinsip aqidah dan keyakinan seorang muslim telah beliau tanamkan pada diri Abdullah bin Abbas semenjak ia belum baligh, bukan hanya adab-adab yang berkenaan dengan amaliyah sehari-hari, shalat berjamaah dll.

2. Bimbinglah saudara-saudaramu dengan Uswah Hasanah, yaitu dengan cara mencontohkan setiap yang kita ajarkan pada mereka dalam bentuk praktek nyata dari Anda sebagai Kakaknya. Sehingga ajaran tersebut akan lebih menghasilkan buahnya. Hal ini suka tidak suka Anda Sebagai Kakak tertua perlu melakukan pembenahan terhadap diri sendiri dahulu, untuk jadi orang yang saleh, dan bertakwa, -dengan izin Allah- bila hal ini telah tercapai, saat kita mendidik adik-adik kita dengan baik, mereka pun akan menjadi anak saleh pula.
Dalam membimbing adik-adikmu dengan membiasakan mengamalkan amalan sunah dan adab-adab yang di ajarkan Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai kesempatan dan keadaan, Karena dengan membiasakan mereka adab-adab islami, amalan islami dan juga akidah islami semenjak dini, akan menjadikan apa yang kita ajarkan benar-benar tertanam kokoh dalam jiwa mereka.

3. Selalu Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW
Sesuai dengan firman Allah :
يـاَ يُّـهَا الَّذِيـْنَ امَنُوْآ اَطِيْعُوا اللهَ وَ اَطِيْعُوا الـرَّسُوْلَ وَ اُوليِ اْلاَمْرِ مِنْكُمْ، فَاِنْ تَـنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلىَ اللهِ وَ الـرَّسُوْلِ اِنْ كُـنْتُمْ تُـؤْمـِنُـْونَ بِاللهِ وَ اْلـيَوْمِ الاخِرِ، ذلِكَ خَيْرٌ وَّ اَحْسَنُ تَـأْوِيـْلاً. النساء:59
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [An-Nisa’ : 59]
Dan hadist shohih berikut:
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: تَـرَكْتُ فِـيْكُمْ اَمـْرَيـْنِ لَنْ تَضِلُّـوْا مَا تَـمَسَّكْـتُمْ بِـهِمَا: كِـتَابَ اللهِ وَ سُنَّـةَ رَسُوْلـــِهِ. مالك
Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda : “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya”. [HR. Malik]

Semoga jawabannya bisa membantu.

 

Artikel Terkait