4 Cara Jitu Hindari Moms War

menghindari-mom-war

Konon katanya seorang ibu belum bisa menjadi ibu ibu seutuhnya jika dia belum melahirkan secara normal dan menyusui anak-anaknya sendiri. Tapi apa jadinya jika seorang ibu melahirkan melalui proses operasi Caesar dan tidak menyusui ASI pada anaknya dan menyusui dengan susu formula.

Makanya kita kini mengenal istilah Moms War, ungkapan ini pada awalnya digunakan untuk menggambarkan seorang ibu yang bekerja dan ibu yang tinggal di rumah. Istilah menjadi populer pada tahun 1986 setelah Leslie Morgan Steiner diterbitkan bukunya, Mommy Wars: Stay at Home. Dan pada saat ini Moms War juga diggunakan untuk menggambarkan sejumlah isu pengasuhan lainnya, mulai dari ibu muda vs ibu yang lebih tua, ASI vs susu formula, Kain popok vs diaper sekali pakai, bahkan homeschooling vs sekolah tradisional.

Ya, banyak sekali factor perbandingan yang menyebabkan Moms War, dan kita berharap semoga kita tidak terjebak dalam hal ini, tentunya dengan menerapkan hal ini akan menjadi pola pengasuhan kita sebagai seorang ibu.

1. Seorang Ibu Harus Terus Belajar

mengajarkan-apa-itu-gajet
imgae. via www.ppgsidoarjo.org

Kita tahu bahwa untuk menjadi sosok orang tua tidak ada sekolahnya, bahkan anak yang dilahirkan dan menjadi tanggung jawab kita pun tidak disertai buku petunjuk manual seperti layaknya barang. Tetapi, Tuhan itu Maha Adil, Dia mampu mempersiapkan segalanya, bahkan jauh dari yang kita pikirkan.

Dan, sebagai orang tua, yang harus kita lakukan adalah mau untuk terus belajar. Siapkanlah mental yang kuat dan jadikanlah diri kita sebagai gelas kosong yang siap menampung segala ilmu yang akan berguna untuk menunaikan tanggung jawab kita sebagai sosok ibu yang jempolan dan mampu menyaring segala informasi dengan baik. Ada banyak hal yang mempermudah kita belajar sebagai orang Tua, antara lain adalah agama, penelitian ilmiah, dan pengalaman ibu-ibu lainnya yang ddapat dijadikan referensi dan solusi yang pas bagi kita. Karena orang tua tahu yang terbaik untuk keluarganya.

2. Selalu Percaya Diri

memberikan-stimulus
image.via www.klikdokter.com

Untuk menjadi orang tua, khususnya ibu yang baik, maka seseorang juga harus percaya diri bahwa dirinya bisa menjadi yang terbaik. Jadi, saat ibu sudah memilih dan memilah prinsip-prinsip pengasuhan yang dipilih berdasarkan pertimbangan bersama ayah, maka yakinlah bahwa kalian bisa melakukannya dengan baik.

Tapi perlu diingat juga ya, bahwa percaya diri berbeda dengan keras kepala. Percaya diri di sini lebih kepada sikap yakin dan juga konsekuen atas pilihan yang telah diambil. Hal ini penting terutama saat kita mendisiplinkan anak. Jangan sampai kita yang jadi galau dengan aturan yang ditetapkan, karena hal ini hanya akan membingungkan anak.

3. Jangan Mudah Terbawa Perasaan

tanggung-jawab-orangtua
image. via sdmtponorogo.com

Sebagai seorang ibu, seringkali moms war yang terjadi diakibatkan oleh para ibu yang terlalu terbawa perasaan mereka saat menyerap informasi yang diperoleh. Semisalnya saja adanya statement bernada sindiran dan pemahaman akan informasi yang setengah-setengah yang akhirnya menjadi pemicu perselisihan di antara para ibu. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran diperlukan adanya keterbukaan hati, pikiran, dan juga kelapangan dada agar dapat memahami persoalan dan kondisi pihak lain secara keseluruhan dengan sudut pandang yang objektif. Pernyataan pendapat yang santun, penuh empati, dan tidak asal tuduh juga perlu diperhatikan saat melakukan sharing solusi di media sosial.

4. Pahami Kemampuan Diri Kita

wanita-cantik-taat
image. via image. via www.hipwee.com

Pada beberapa kesempatan seorang ibu bisa sekali menjadi panik karena berbeda dengan ibu lain atau pada umumnya. Terlebih jika hal tersebut terjadi tanpa mengukur kemampuannya sendiri. Seringkali muncul pertanyaan dalam benak, seperti, “Aduh, bener nggak sih, ini yang sudah kulakukan?”. Atau, “Aduh, pantesan anakku begini begitu. Jangan-jangan yang kulakukan salah ya.”.

Apakah ibu juga salah satu yang pernah atau sering bertanya-tanya sendiri seperti itu?

Hal ini terjadi pada seorang ibu yang tidak tahu sejauh mana kemampuannya dalam mengatasi masalah, dan tidak tahu apa yang ingin ia capai, sehingga akan lebih mudah terprovokasi dan menjadi bingung sendiri. Jadi, ada baiknya kita sebagai seorangibu harus mengetahui sejauh mana kemampuan diri kita. Semisalnya saja tidak semua ibu bisa mempercayakan anaknya pada pengasuh, dan tidak semua ibu memiliki kesempatan untuk beraktivitas di rumah. Jadi, untuk mengatasinya, berdiskusilah dengan suami dan kerabat terdekat lain mengenai hal ini, sehingga dapat membantu ibu untuk membuat keputusan terbaik.

Tidak ada yang menyangkal bahwa menjadi seorang ibu merupakan suatu hal yang membutuhkan keikhlasan. Pengakuan dan persetujuan orang lain atas pilihan kita sebenarnya tidaklah penting. Dan Motherhood seharusnya menjadi dunia untuk saling berbagi dan mendukung sebagai sesame ibu. Jadi, jelas bahwa berselisih paham tidak seharusnya menjadikan para ibu bersitegang dan merasa paling benar.

Simak juga “3 Kebahagiaan Yang Diperoleh Orangtua Dari Anaknya Yang Shaleh Dan Shaleha

Simak juga “Anak Kecanduan Gadget? Ini 3 Solusi Yang Bisa Dilakukan Mom

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait