Depresi Pasca Melahirkan Yang Harus Dipahami Oleh Seorang Suami

depersi-setelah-kehamilan

Orang tua mana yang tak bahagia menyambut kehadiran seorang bayi, yang pasti sudah ditunggu-tunggu dengan penuh kebahagiaan. Namun kelahiran dan proses panjang yang dialami ibu hamil dengan penuh kebahagiaan itu ternyata juga bisa menimbulkan depresi dan emosi. Jadi, para suami wajib ya memahami hal ini.

Ibu hamil yang telah melalui proses persalinan ini ternyata bisa memiliki emosi yang bercampur aduk di luar kendali. Jadi, bukan hanya kebahagiaan saja yang meluap, tapi ada kemungkinan disertai juga dengan rasa cemas dan takut, serta serangan depresi yang tidak diharapkan bisa mewarnai suasana hati ibu setelah melahirkan saat itu. Menurut sebuah situs kesehatan anak, bagi hampir sebagian besar wanita pasca melahirkan umumnya merasakan perasaan sedih dan emosi berlebihan.

Ini merupakan hal yang lazim bagi seorang ibu pasca melahirkan bila mengalami baby blues. Istilah baby blues ini sebenarnya merujuk kepada gejala emosi sedih, gelisah, cengeng, kelelahan, kesepian, dan stres yang menimpa ibu setelah melahirkan. Namun pada sebagian kasus, yaitu sekitar 1 dari 7 ibu, mengalami baby blues yang lebih serius atau disebut depresi pasca melahirkan. Kondisi ini dapat berdampak kepada kemampuan ibu dalam merawat dirinya sendiri dan bayinya. Pada titik tertentu, dapat membahayakan nyawa si ibu dan juga bayinya sehingga perlu ditangani dengan baik.

Depresi pasca melahirkan atau postpartum depression (PPD) kerap disalahpahami sebagai kondisi baby blues biasa. Padahal keduanya adalah gangguan mood yang berbeda. Perbedaan keduanya terletak pada intensitas dan durasi berlangsungnya. Kondisi baby blues memang tidak menyenangkan, tapi merupakan hal normal dengan gejalanya yang ringan dan bersifat sementara. Setelah sekitar 14 hari pasca melahirkan,baby blues akan hilang dengan sendirinya. Bila gejalanya berlanjut lebih dari 14 hari, maka kondisi tersebut sudah bisa disebut sebagai PPD. Gejala PPD biasanya muncul dalam kisaran beberapa minggu setelah melahirkan atau bisa juga baru muncul hingga enam bulan pasca melahirkan. Gejalanya antara lain adalah berpikir untuk menyakiti bayi atau diri sendiri, terlintas pikiran yang menakutkan, takut bila ditinggal berduaan saja dengan bayi, tidak tertarik pada bayi, keluarga, dan kerabat, takut tidak bisa menjadi ibu yang baik, marah secara berlebihan, sedih dan menangis tidak terkendali untuk waktu yang lama, gelisah atau panic. Bahkan ada juga yang merasa bersalah, tidak berharga, atau menyalahkan diri sendiri, sulit dalam berkonsentrasi, mengingat detail, atau membuat keputusan, kehilangan minat dan kesenangan pada hal-hal yang biasanya bisa dinikmati, termasuk hubungan seksual, terjadi perubahan pola makan, seperti makan jauh lebih banyak atau lebih sedikit dari biasanya, terjadi perubahan pola tidur, menjadi terlalu banyak tidur, tidak mampu tidur, atau kesulitan untuk tertidur, dan merasa sengsara.

Uniknya PPD bisa menimpa semua wanita tanpa memandang usia, pendapatan, pendidikan, suku, ras, atau budaya. PPD bisa terjadi pada wanita yang baru pertama kali melahirkan maupun kelahiran kedua atau seterusnya, baik pada wanita yang melahirkan setelah menikah atau belum menikah, baik yang kehamilannya berjalan lancar maupun mengalami masalah.

Nah, disinilah peran yang harus dipahami oleh seorang suami, jangan menyalahkan istri untuk kondisi yang dia alaminya. Karena jelas tidak ada seorang wanita pun yang ingin mengalami hal ini setelah melahirkan bahkan dalam keadaan apapun. Karena kita tahu bahwa kebahagiaan memiliki bayi merupakan dambaan banyak Ibu. Oleh karena itu, suami harus berupaya mendampingi istri saat menjalani masa-masa sulit dan mendukungnya untuk pulih dari PPD. Penyebab PPD sendiri secara medis dikait-kaitkan dengan faktor perubahan hormonal tubuh pasca melahirkan. Perubahan hormonal inilah yang berdampak pada mood atau suasana hati dan energi. Selama kehamilan, hormon estrogen dan progestron naik, sedangkan setelah melahirkan, tiba-tiba kadar hormon tersebut anjlok. Pada beberapa kasus, kadar hormon tiroid ibu pasca melahirkan juga menurun. Nah, cepatnya penurunan kadar hormon berdampak pada senyawa di otak sehingga hasil yang terlihat adalah emosi kesedihan dan depresi yang berkepanjangan. Hormon stres juga bisa menambahkan efek pada suasana hati. Sebagian wanita bisa mengalami kondisi ini lebih buruk dari yang lainnya.

Jadi, suami cobalah untuk bersabar dan berbaik hati kepada istrimu, termasuk bertutur kata dengan lembut. Istri juga harus bersabar dalam menghadapi kondisinya. Dorong istrimu untuk bersabar juga dan katakan bahwa butuh waktu untuk merasa lebih baik dan pada akhirnya kalian sekeluarga akan benar-benar lebih baik. Percayalah kepada istri dan ingatkan betapa sebenarnya dia memiliki kekuatan dan kualitas diri yang bagus. Dorong istrimu untuk bersyukur dan berpikir optimis. Bersama-sama dengan istrimu, bacalah informasi tentang PPD dan dorong istrimu untuk berbicara kepada dokter psikolog. Jangan menyerah walau terkadang wanita yang mengalami PPD enggan mencari pertolongan psikolog atau memang tidak menyadari gejalanya dengan baik. Jangan lupa juga untuk melimpahkan perhatianmu kepada istri, seperti mendengarkannya bila dia ingin bicara serta mengecek secara rutin apa yang sedang dia lakukan. Berikanlah istrimu waktu untuk istirahat dari tanggung jawabnya mengurus anak-anak dan rumah tangga. Kamu bisa meminta bantuan orang tua, saudara, kerabat, atau pembantu untuk melakukan tugas yang biasa dikerjakan istri.

Karena perhatian, dukungan, kasih sayang, dan persahabatan merupakan obat yang baik untuk kondisi istrimu. Berikan dengan tulus agar dia bisa optimis untuk keluar dari kondisi PPD. Selain itu, jangan pernah ragu untuk berkonsultasi dengan dokter psikolog untuk membantu istrimu pulih dari PPD. Dengan perawatan psikolog dan dukungan dari orang terkasih, wanita dengan PPD dapat menjadi orang tua yang bahagia dan sehat.

Simak juga “5 Penyebab Kembung Pada Bayi Yang Tidak Bunda Sadari

Simak juga “Pentingnya Kita Memantau Gerakan Janin Dari Waktu Ke Waktu Dengan 3 Hal Ini

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait