Hidup Itu Tak Harus Selalu Menjadi Sempurna

hidup-itu-tak-sempurna

Jika disuruh memilih untuk menjai orang yang sempurna atau tidak sempurna, pasti kita akan lebih memilih untuk menjadi sosok manusia yang sempurna. Karena dengan sempurna, maka segala hal yang kita lakukan bernilai 100, dan semua hal yang kita jalani berjalan dengan baik sesuai dengan rencana yang telah kita tetapkan.

Misalnya saja saat saya masih lajang, saya selalu menginginkan semua berjalan dengan sempurna, sesuai dengan rencana dan keinginan saya dari awal, agar semua berakhir dengan kepastian. Karena jelas saya tidak menyukai ketidakpastian, bagi saya ketidakpastian hanya berlaku bagi mereka yang tidak memiliki passion dalam hidupnya. Makanya tak heran saat saya memutuskan untuk travelling, maka saya akan memiliki perencanaan yang matang, dengan jadwal yang jelas, tempat tujuan yang jelas, tiket pulang pergi yang sudah dibeli sebelum berangkat, dan penginapan yang sudah di booking jauh-jauh hari.

Hal itu pun berlanjut saat saya menikah, hampir semua pekerjaan di rumah saya bisa menghandle nya dengan baik dan teratur. Tidak ada selimut yang berantakan, tidak ada pakaian yang posisinya tertukar antara slot baju saya dan slot baju suami. Semua rapih dan saya bisa selalu produktif dengan pekerjaan saya setelahnya. Namun sayang, semua berubah saat saya memiliki buah hati.

Saya yang tidak bisa toleran dengan perubahan jadwal, keterlambatan, atau pun segala sesuatu yang berantakan ini pun dipaksa berubah. Ya, sosok si kecil memaksa saya untuk bisa menikmati hidup dengan cara yang berbeda. Saya berubah menjadi sosok yang kurang peduli dengan kerapihan lemari pakaian, saya tidak begitu saklek dengan jadwal yang berubah, atau pun tidak begitu produktif dengan pekerjaan saya. Hal ini bukan semerta-merta berubah begitu saja, tetapi si kecil mengajarkan saya bagaimana untuk menikmati hidup dengan cara yang lebih santai.

Perubahan ini bukanlah sesuatu yang tiba-tiba, melainkan suatu rangkaian panjang yang sempat membuat saya setiap hari ingin marah tapi tidak tahu harus marah kepada siapa. Karena tawa si kecil selalu membuat saya bisa meredam semuanya. Karena pada dasarnya seorang anak adalah makhluk yang serba spontan dan tidak terencana. Jadi saya mencoba memahami hal itu dengan baik.

Misalnya saja saat saya sudah merencanakan hari ini kami akan melakukan perjalanan kecil, namun si kecil terus tertidur dan kita pun tak tega untuk membangunkannya, hingga akhirnya dia bangun pada saat menjelang sore dan semua rencana harus dibatalkan. Sedikit kesel sih, tapi bagaimana bisa saya memarahinya jika ia selalu bisa memasang tampang tak berdosanya yang imut.

Begitulah, kenyataan dan perjalanan hidup dengan perubahan status selalu dapat mengajarkan kita untuk menjadi sosok yang lebih bijak. Hidup kita tak harus sempurna, tetapi hidup kita harus bisa kita nikmati dengan baik. Dan sarana pembelajaran itu tak melulu kita dapatkan dari mereka yang lebih tua dan sudah hidup jauh lebih lama dari kita, karena bahkan anak kecil pun bisa membuat kita banyak belajar tentang kehidupan.

Simak juga “Ini Kesalahan Fatal yang Sering Kamu Lakukan Ketika Mempelajari Hal Baru

Simak juga “3 Ucapan Yang Harus Di Hindari Istri Saat Ngambek

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait