Inilah Alasan Kenapa Nabi Muhammad SAW Selalu Makan Dari Pinggir Piring



Salah satu etika makan dalam sunnah Rasulullah SAW. adalah memulai makan dari pinggir tempat makan atau dari makanan yang terdekat dari kita, dan bukan dari tengah. As-Samarqandhi berkata, “Termasuk dari sunnah adalah, hendaknya janganlah seseorang mulai makan dari tengah-tengah mkanan. Karena Rasul melarang hal ini dan menyuruh umatnya agar mulai mkan dengan mengambil yang terdekat atau yang berada di pinggir tempat makan.”

Dari Abdullah bin Busrin, dia menceritakan, “Nabi mempunyai wadah besar yang disebut Al-Gharra, yang dibawa oleh empat orang. Ketika mereka berada pada pagi hari, mereka disuguhi wadah besar itu -yang telah berisi bubur-  dan mereka pun berkumpul mengelilingi wadah tersebut. Setelah jumlah mereka banyak, maka Rasulullah duduk berlutut. Lalu seorang badui berucap, ‘Duduk macam apa itu?’ Maka Nabi menjawab, ‘Sesungguhnya Allah telah menjadikan aku hamba yang mulia, dan Dia tidak menjadikan aku sebagai hamba yang sombong lagi kasar.’ Selanjutnya beliau bersabda, ‘Makanlah dari tepi wadah tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya, niscaya akan diberikan berkah padanya.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Suatu hari di waktu dhuha, beliau mengundang sebagian sahabat untuk makan bersama di rumahnya. Kemudian ketika mereka sudah datang dan berkumpul mengelilingi tempat makan, beliau bersabda :

“Makanlah kalian dari sekelilingnya dan biarkanlah atasnya, maka makanan ini akan diberkahi.” (Al-Hadis).

“Dari sekelilingnya”, maksudnya adalah dari pinggirnya.” Dan biarkanlah atasnya,” yaitu bagian tengah-tengahnya. Karena dalam riwayat lain disebutkan bahwa barakah Allah turn di tengah-tengah makanan. Jadi, Nabi menyuruh mereka agar membiarkannya dan memakannya nanti pada saat-saat terakhir makan.

Meskipun dalam hadis ini dan dalam hadis-hadis yang lain, tidak disebutkan secara spesifik bahwa Nabi SAW. melakukan hal ini, tetapi kami dalam keyakinan bahwa beliau pasti juga melakukan apa yang beliau perintahkan ini. Dan, hadis yang kami kemukakan di atas adalah hadis yang paling mendekati bahwa beliau juga memulai makanya dari pinggir tempat makanan. Karena beliau pun turut makan bersama-sama para sahabat ra.

Dalam kitab Fiqhunnisa karya Syaikh Kamil Muhammad Uwaidah, disebutkan, dari Ibnu Abbas ra, Nabi  Saw pernah berkata,

“Berkah itu turun pada bagian tengah makanan, karenanya makanlah dari tepi wadah makanan tersebut dan jangan mengambil dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Mulai makan dari bagian pinggir tempat makan atau piring ini adalah suatu etika yang baik dan menunjukan kesopanan. Sebab, seseorang yang makan langsung dari tengah atau mengambil makanan yang jauh dari dirinya sementara di dekatnya juga ada makan, akan menunjukan ketamkannya.

Dalam hadis pada pembahasan sebelumnya disebutkan bahwa Rasulullah SAW. menyuruh Umar bin Abi Salamah agar mengambil makanan dari yang berada paling dekat dengannya.

Secukupnya Saja
Secukupnya Saja

Namun demikian, para ulama memberikan sedikit pengecualian apabila jenis makanan yang dihidangkan bermacam-macam. Misalnya, tersediah beraneka macam buah-buahan atau berbagai jenis kue dan roti. Dalam hal ini, sekiranya seseorang ingin mengambil jenis makanan tertentu yang tidak terletak persis di dekatnya atau  didepannya, maka ia boleh mengambinya meskipun tempatnya agak jauh. Termasuk juga pada masa kita sekarang, di mana sering kita saksikan dalm berbagai acara pernikahan atau yang semacamnya yang menyediahkan banyak sekali makanan dan minuman beraneka macam, dari makanan berat hingga makanan ringan. Dan dari minuman dingin hingga minuman hangat. Dalam hal ini, sekiranya kita termasuk yang hadir di sana, tidak mengapa jika mengambil makanan yang lebih jauh, selama itu semua dilakukan dengan menjaga adab.

Artikel Terkait