Mapan lalu Nikah atau Nikah lalu Mapan?

saling-mendengarkan

Ketika pertanyaan muncul dalam pikiran. “ Apakah mau nikah? Sedangkan belum punya apa-apa, isteri nanti mau dikasih makan apa ? Batu ?? “ Perkataan ibuku membuatku tertunduk, namun aku yang masih kuliah ini tetap menginginkan untuk menikah.

Mapan adalah kondisi kecukupan lahir dan batin. Dimana mampu dalam memenuhi kebutuhan hidup primer dan sekunder, tersier tidak termasuk, karena itu bukan patokan kemapanan, melainkan sebuah keserakahan.

Kemapanan memiliki ukuran yang berbeda pada setiap orang, bisa jadi si A dapat dinyatakan sudah mapan ketika dia mampu menafkahi diri sendiri dan orang lain. Si B dinyatakan sudah mapan ketika dia sudah mampu membeli rumah dan mobil mewah. Dan si C misalnya dinyatakan mapan apabila dia sudah mampu buka toko dan haji dua kali. Nah, sekarang bagaimana ukuran mapan untuk kamu? Mungkin mapan versi kamu beda lagi. Yang jadi pertanyaan, Apakah kemapanan berpengaruh besar pada pernikahan? Ataukah sebaliknya, apakah pernikahan yang berpengaruh besar pada kemapanan?.

Namun berdasarkan hasil wawancara dengan orang-orang yang masih lajang, ukuran mapan itu apabila sudah punya rumah mewah, kendaraan mewah, dan biaya pernikahan yang mewah. Katanya khawatir dapat jodoh orang kaya, mari kita hitung ukuran mapan di atas!

RUMAH                                               = 350jt

KENDARAAN/MOBIL                        = 150jt

ONGKOS RESEPSI NIKAH              = 100jt

DUIT MAPAN = 350jt + 150jt + 100jt = 600jt

Baik, kita sudah mendapat ukuran mapan itu minimalnya adalah 600 juta. Jadi kapan kita bisa nikah jika gaji kita hanya 2jt/bulan ? Bahkan ada yang tidak sampai 2 juta.

Kemapanan sebelum menikah tentunya sangat diidam-idamkan oleh wanita maupun laki-laki, apalagi yang namanya laki-laki, banyak yang nggak mau nikah karena belum mapan. Dan uniknya, ini karena doktrin dari para wanita, karena wanita ingin laki-laki yang mapan sebelum menikah agar pernikahannya lancar.

Susahnya lagi bukan hanya pasangan yang ingin menikah saja yang memikirkan hal ini, tapi orangtua mereka pun seolah tak mau ketinggalan dalam masalah ini. Yang paling menarik ketika orangtua justru berbicara mempesimiskan dan jauh dari keyakinan rezeki dalam kendali Allah. Sebagaimana dalam berfirman Allah.

“Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) di antara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” [Qs. An-Nur: 32]

Tuh kan nikmat Allah yang mana lagi yang akan kita ingkari, wahai sahabatku? Saat berpuasa, Allah ingin kita menyegerakan buka puasa, udah lapar-laparnya, haus-hausnya eh malah ingin kita menyegerakan. Ketika sahur, Allah ingin kita sahur di akhir waktu menuju imsyak, Allah kasih kita kesempatan untuk sholat malam dulu, masak dulu. Dan masalah nikah, udah mah nikah itu bikin bahagia, dikasih bonus rezeki yang berlimpah pula. Allah itu Maha Mengetahui, Allah akan lebih mencukupi apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan.

“Lantas mapan lalu nikah? Atau nikah lalu mapan?”

Kemapanan memang ada pengaruhnya dalam sebuah pernikahan, namun hanya sekedar ada, bukan sebuah pengaruh yang besar. Sering kita mendengar sebuah ungkapan, “tidak ada yang mati kelaparan karena kita berpuasa” lalu ada lagi “tak ada sejarahnya sedekah bikin kita miskin.” Dan masalah pernikahan, apa iya Allah tega membiarkan hamba-Nya makan batu gara-gara ingin memuliakan sunnah? Sudah banyak yang membuktikan bahwa mapan sebelum menikah tidaklah menentukan sebuah rezeki setelah menikah, justru banyak yang telah menikah membuktikan bahwa rezeki begitu mudah mengalir seperti sungai di surga yang terus mengalir.

Jadi, mapan dulu lalu nikah? Atau nikah dulu lalu mapan? Sobat tidak dapat menjamin kapan sobat mapan, namun Allah menjamin kamapanan pada hamba-Nya yang telah menikah karena ridho Allah (nikah karena ridlo Allah ya, bukan karena ingin mapan).

“Nikah dulu baru mapan”

Simak juga

Berikut Ini Adalah Wanita Yang Haram Untuk Dinikahi

Selintasan Pikiran Mitsaqan Ghalizha Dalam Pernikahan

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait