Orang Tua Masih Percaya Mengenai Penentuan Hari Baik Pernikahan, Apakah Ini Diperbolehkan Dalam Islam?

Menentukan hari baik pernikahan

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb

Afwan, mau tanya, Ana uda jalankan proses ta’aruf dan Alhamdulillah secara personal kami uda cocok dan keluarga laki2 uda ingin menyegerakan pernikahan. Tapi, keluarga kedua belah pihak masih berpegang teguh dengan adat jawa (menentukan hari baik) dan perkiraan jumadil akhir. Menentukan hari baik pernikahan seperti itu bolehkah dalam islam?

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pada prinsipnya, semua hari itu baik, selama tidak ada larangan dalam syari’at. Dan kabar baiknya, tidak ada dalil yang menyatakan adanya hari sial/ hari tidak baik untuk menyelengarakan walimahan/hajatan. Jadi mau kapan saja kamu menyelenggarakan pernikahan, kapanpun adalah baik. Orang Jawa masih banyak yang percaya adanya hari sial, sehingga untuk menyelenggarakan hajatan mereka menggunakan ilmu titen untuk penentuan hari baik tersebut. Beranggapan bahwa suatu hari adalah hari sial ini termasuk ke dalam thiyaroh. Thiyaroh, secara umum berarti beranggapan sial karena sesuatu, dan termasuk dalam kesyirikan. Contoh dari thiyaroh, antara lain:

  1. Anggapan sial terhadap angka 13
  2. Menganggap anak sering sakit-sakitan akibat nama yang terlalu berat sehingga harus ganti nama
  3. Menganggap bulan Suro atau bulan Muharam adalah bulan keramat sehingga tidak boleh ada acara walimahan/hajatan lainnya.

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia menyebutkan hadits secara marfu’ –sampai kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

« الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

“Beranggapan sial adalah kesyirikan, beranggapan sial adalah kesyirikan”. Beliau menyebutnya sampai tiga kali. Kemudian Ibnu Mas’ud berkata, “Tidak ada yang bisa menghilangkan sangkaan jelek dalam hatinya. Namun Allah-lah yang menghilangkan anggapan sial tersebut dengan tawakkal.” (HR. Abu Daud no. 3910 dan Ibnu Majah no. 3538. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Anggapan sial mengurangi tauhid, karena:

  1. Tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah dan senantiasa bergantung pada selain Allah
  2. Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan termasuk takhayul dan keragu-raguan

Telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ؟ قَالَ: أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ :اَللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ.

‘Barangsiapa mengurungkan niatnya karena thiyarah, maka ia telah berbuat syirik.” Para Sahabat bertanya: “Lalu apakah tebusannya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Hendaklah ia mengucapkan: ‘Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan dari Engkau, tiadalah burung itu (yang dijadikan objek tathayyur) melainkan makhluk-Mu dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.’” [9]

Berdasarkan penjelasan kami di atas, sebaiknya kamu dan calon suamimu membicarakan tentang hal ini dengan baik kepada kedua orang tua masing-masing. Jelaskan kepada mereka apa yang kamu yakini dan tegaskan pula kepada mereka bahwa semua hari adalah baik. Menikah adalah ibadah, menikah adalah sunnah Rasul, in shaa Allah akan sangat banyak kebaikan bermula dari sana. Menyegerakan menikah adalah lebih utama. Sikap yang paling tepat adalah tawakkal kepada Allah, niat lillahi ta ‘ala.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Aza Wajallah

Artikel Terkait