Peranan Khadijah Pada Saat Rasulullah Menerima Wahyu Pertama

peranan-siti-khadijah

Istri memiliki peranan yang sangat penting bagi seorang suami. Ia menjadi penopang dan juga penenang bagi seorang suami, oleh karena itu tak heran jika dibalik kesuksesan seorang pria, pasti ada sosok wanita kuat yang mendampinginya.

Begitulah peran yang seharusnya dilakukan oleh seorang istri, dan kita bisa meneladaninya dari Khadijah, istri pertama Rosulluloh SAW. Peranan Khadijah sangat besar bagi suaminya saat Rosulluloh SAW menerima wahyu yang pertama. Karena saat menerima wahyu pertama di Gua Hira, Rasulullah lalau kembali ke rumah menemui istrinya, Khadijah, dalam keadaan ketakutan. Lalu Rosulluloh SAW duduk di sisi istrinya dan semakin merapat padanya. Saat itu Rosullulloh SAW menceritakan semua yang ia lihat dan alami selama di Gua Hira. Beliau melihat Jibril dan diseru menjadi seorang utusan Allah SWT.

Lalu, apa peranan yang diambil oleh Khadijah sebagai seorang istri untuk suaminya? Berikut ulasannya:

1. Menjadi Tempat Berbagi Untuk Suaminya

tempat-berbagi
image. via www.rumah.com

Dalam Surat Ar-Ruum ayat 21:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Sebagai seorang wanita yang telah menjadi istri, kita bisa meneladani apa yang dilakukan Khadijah untuk suaminya. Ia menjadi tempat berbagi untuk suaminya, dan ia mampu membuat suami yang sedang dirundung gundah menjadi lebih tenang. Jadi, istri memiliki peranan utama untuk membuat suami menjadi sakinah dan tenang.

Karena seorang suami butuh ketenangan, terlebih setelah hiruk pikuk yang terjadi di luar rumah dan juga di dunia kerja, siapa lagi yang akan membuatnya lebih tenang saat pulang ke rumah, jika bukan istrinya.Inilah kunci sukses kehidupan berkeluarga. Istri harus mampu menjadi tempat kembali yang tenang bagi sang suami.

2. Berikanlah Tanggapan Atas Keluh Kesahnya

memberikan-tanggapan
image. via www.infospesial.net

Dalam Ibnu Hisyam surat As-Sirah An Nabawiyah 1:236:

Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tangan-Nya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini.

Rosulluloh SAW juga layaknya suami pada umumnya, ia memiliki rasa gundah setelah menerima wahyu yang pertama. Dan pada saat Rasululloh SAW menceritakan semua yang ia lihat kepada istrinya, termasuk bahwa ia diangkat menjadi seorang utusan Allah, Khadijah pun memberikan tanggapan yang luar biasa. Karena ucapan dan perkataan indah yang terucap dari istri di saat sang suami merasa takut dan sedih ini mampu mengokohkan suami, bahkan di tengah bimbang dan ragu yang menimpanya.

Dalam hal ini jelas bahwa Khadijah bukan semata keimanan fanatik keluarga, tapi sesuatu yang dibangun dengan ilmu. Pengetahuan Khadijah tentang kerasulan ini terbukti dengan tidak muncul pertanyaan darinya “Siapa itu Jibril?”, “Apa itu utusan Allah (Rasulullah)?” dll. Karena Khadijah sudah menangkap tanda-tanda bahwa suaminya akan ditunjuk menjadi Rosul. Jadi ia dapat menganggap semuanya sebagai sebuah hikmah

3. Membantu Mencarikan Solusi Untuk Suaminya

memberikan-solusi
image. via halloindo.com

Khadijah adalah wanita yang luar biasa. Setelah mengetahui cerita dari suaminya, ia tidak hanya diam dan menebak-nebak apa yang terjadi. Ia pun mencoba mengambil peranan, mencari solusi di tengah kebingungan sang suami. Ia pun pergi menuju seorang alim yang baik bernama Waraqah bin Naufal.

Khadijah mengabarkan cerita suaminya kepada Waraqah bin Naufal. Lalu Waraqah menanggapinya dan memberikannya saran agar suami Khadijah dapat berteguh diri. Waraqah menjawab dengan keterangan yang jelas dan penuh keyakinan. Ia begitu mantab menyebutkan bahwa Muhammad adalah seorang rasul umat ini.

Khadijah pun mengikuti saran Waraqah dan memberikan saran untuk suaminya, hingga akhirnya Rosullulloh SAW pun kembali menuju Gua Hira. Dan hal ini menunjukkan bahwa beliau kini sudah lebih siap membenarkan risalah yang terjadi tanpa adanya rasa takut lagi.

Rencana Allah SWT memang sunggu ajaib, ia memberikan Muhammad seorang istri yang pintar dan solehah saat wahyu pertama tiba. Seorang istri yang mampu memberikan ketenangan saat seorang suami yang berjiwa tegar merasa kebingungan. Bahkan dia pun tetap tenang dan memberikan ketenangan pada suaminya, dan dapat membenarkan risalah kerasulannya saat orang-orang mendustakannya. Ia tetap bersama suaminya di tengah tekanan yang datang dari kaumnya. Ia menolong dan membela suaminya dengan sepenuh hati.

Simak juga —> “Lakukan Ini Agar Bisa Menjadi Bidadari Bagi Suami Tercinta

Simak juga —> “Ali dan Fatimah, Kisah Cinta Sepasang Insan Mulia

Simak juga —> “2 Ulasan Ini Harus Di Ketahui Calon Istri Dalam Menjadi Istri Shalehah

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait