Selintasan Pikiran Mitsaqan Ghalizha Dalam Pernikahan

Selintasan-Pikiran-Mitsaqan-Ghalizha

Mitsaqan Ghalizh biasanya kita dapati kalau ada broadcast undangan pernikahan. Atau dalam kesempatan seorang yang alim menyampaikan nasihat pernikahan. Mitsaqan Ghalizha bisa kita temui dalam Al Qur’an. Allah SWT menyebut frasa ini sebanyak tiga kali, yaitu dalam surat An Nisa ayat 21, An Nisa ayat 154, dan Al Ahzab ayat 7.

Menariknya, hanya pada An Nisa ayat 21, Allah SWT gunakan diksi Mitsaqan Ghalizha dalam konteks pernikahan. Sedangkan di dua tempat yang lain, istilah tersebut dijadikan sebagai kata-kata terakhir di ayat yang mengisahkan perjuangan dakwah para nabi dan rasul.

وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَىٰ بَعْضُكُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” [An Nisa: 21]

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّورَ بِمِيثَاقِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوا فِي السَّبْتِ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Dan telah Kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil dari) mereka. Dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud”, dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu”, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.” [An Nisa: 154]

وَإِذْ أَخَذْنَا مِنَ النَّبِيِّينَ مِيثَاقَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُوحٍ وَإِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَأَخَذْنَا مِنْهُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari kamu (sendiri) dari Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh.” [Al Ahzab: 7]

Kata “mitsaq” dalam Bahasa Arab berarti “janji” atau “piagam perjanjian”, sama seperti “wa’d”. Namun, secara penekanan, “mitsaq” lebih kuat ketimbang “wa’d”. Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Imam Jalaludin As Suyuthi dalam Tafsir Jalalain menyebut “mitsaq” sebagai bentuk taukid (penekanan/penguatan/penegasan) dari sebuah janji. Ia adalah komitmen, lebih dari sekadar janji. Sedangkan, kata “ghalizha” berasal dari kata “ghilzh” yang berarti kuat, berat, tegas,keras, kokoh, teguh. Varian katanya yang cukup populer misalnya ketika kita belajar Fiqih Thaharah ada istilah “najis mughalazhah” (najis yang berat). Dalam Al Qur’an ada banyak varian kata “ghilzh”, misalnya dalam Surat At Taubah ayat 123 atau berbentuk fi’il amr (kata kerja perintah) “waghluzh” pada At Taubah ayat 73 dan At Tahrim ayat 9.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قَاتِلُوا الَّذِينَ يَلُونَكُمْ مِنَ الْكُفَّارِ وَلْيَجِدُوا فِيكُمْ غِلْظَةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan daripadamu, dan ketahuilah, bahwasanya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.” [At Taubah: 123]

 يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ ۚ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah jahannam dan itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.” [At Taubah: 73 dan At Tahrim: 9]

Mitsaqan Ghalizha adalah komitmen yang tidak main-main. Sebentuk janji suci sekaligus ikatan sakral bukan hanya antar manusia yang terlibat, tetapi juga Allah SWT. Karena ia akan menimbulkan konsekuensi lahir dan batin, dunia dan akhirat.

Saat menafsiri Mitsaqan Ghalizha dalam Surat An Nisa ayat 21, Ibnu Katsir mengutip sebuah hadits shahih dari Jabir dalam Kitab Shahih Muslim yang menyatakan bahwa ketika seorang laki-laki mengambil perempuan dari orang tuanya untuk dinikahi berarti dia telah melakukan perjanjian atas nama Allah sebagaimana Dia telah menghalalkannya dengan Kalimat Allah.

Dari ketiga ayat dalam Al Qur’an yang menyebutkan term “Mitsaqan Ghalizha”, ada satu kata kunci yang menjadi benang merah ketiganya, yaitu prihal keterpilihan. Bahwa hanya mereka yang terpilih dan dipilihkan yang bisa ber-mitsaqan ghalizha. Hanya Rasul Ulul Azmi (Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nuh ‘alihim ash shalatu was salaam) dan umumnya hanya 124.000 nabi dan rasul yang Allah pilih dari miliaran penduduk bumi untuk dipercayakan dalam mengemban risalah dakwah. Begitu pula hanya laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik, dan perempuan yang baik hanya untuk laki-laki yang baik.

Simak juga

Apakah Ijab Kabul kita Sudah Sah Sesuai Syariat?

Berikut 3 Kaidah Walimah Pernikahan Yang Baik dan Benar, Namun Sering Diabaikan

4 Pandangan Mengenai Nikah Muda Dalam Kacamata Islam

Semoga bermanfaat…

Artikel Terkait