Setelah Menikah, Dia Berubah Diam Dan Jarang Bicara. Aku Harus Bagaimana?

permasalahan setelah menikah

Pertanyaan

Assalamu’alaikum wr wb

Saya nikah muda, 20th. Pernikahan kami baru saja genap 2 bulan. Tapi suami saya sejak awal pernikahan bersikap beda. Saat saya tanya, dia bilang perasaannya berubah. Sampai sekarang, kami terbiasa diam dan jarang sekali bicara. Saya takut akan banyaknya kewajiban dan hak yang tidak tertunaikan dengan baik. Saya juga sudah coba mengatakan kepada saudarinya agar memberi saran. Tapi tidak ada perubahan. Apa yang harus saya lakukan?

Jawaban

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Pernikahan adalah penyatuan dua org yg berjenis kelamin berbeda yang punya sifat dan karakter yg tidak mungkin 100% sama. Ini berarti pernikahan adalah sebuah proses, proses belajar mengerti dan memahami karakter satu sama lain sehingga diharapkan terjadi peningkatan kualitas diri suami maupun istri.

Perbedaan sifat dan karakter laki-laki dan wanita memang seringkali menimbulkan masalah, oleh karena itu kita harus belajar mengerti dan memahami satu sama lain. Mengutip kata-kata dari sebuah buku yang membahas perbedaan laki-laki dan wanita, karya John Gray, Ph.D, yang berjudul Men are from Mars, Women are From Venus, “Karena dilahirkan dalam lingkungan yang berbeda, wanita dan pria secara fitrah memiliki berbagai aspek yang berbeda satu sama lain. Tidak semua orang menyadari keterbedaannya. Perbedaan itu wajar, jika dikombinasikan dengan baik akan menghasilkan keindahan yang luar biasa. Tapi seperti pedang dengan 2 sisi, perbedaan ini memiliki potensi konflik yang mampu memicu pertengkaran. Kesalahan yang umum terjadi adalah pria mengharapkan pasangannya bereaksi sebagaimana pria, demikian juga sebaliknya. Mereka sering kali lupa, bahwa mereka diciptakan berbeda.”

Komunikasi adalah yang terpenting. Mulailah untuk fokus terhadap kepentingan masa depan keluarga dengan komunikasi yang hangat tanpa mempertahankan ego pribadi. 

Awal-awal pernikahan adalah hal yang biasa terjadi seperti itu, namanya saja fase penyesuaian. Hanya saja, dalam proses tersebut, satu sama lain harus peka terhadap setiap perubahan dan terus introspeksi diri untuk menjadi lebih baik lagi buat pasangan. Tentu kamu mengetahui apa yang dia suka ataupun tidak. Jika belum begitu tahu, ajaklah bicara santai dengan dia terkait hal ini, agar kehidupan keluarga bisa berjalan sesuai keinginan masing-masing (bukan maunya kamu ataupun maunya dia, tapi keinginan bersama).

Ajaklah suamimu berkomunikasi, rangkul dan peluk ia, tunjukkan betapa kamu sangat mencintainya meskipun pernikahan kalian masih baru, berikan perhatian padanya, dengarkan dia dan jangan terbawa emosi, cari akar permasalahannya bermula dari apa, kemudian temukan solusinya satu persatu, kalian harus saling terbuka akan keinginan dan harapan masing-masing, tapi jangan lantas kamu berharap dia langsung berubah seperti maumu. Kamu harus terima dia, begitupun dia harus bisa menerima kamu dengan segala potensi positif sehingga semua perbedaan tersebut membuat diri menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Jangan lupa untuk terus memohon kepada Allah di setiap saat agar diberikan jalan keluar, perbanyak ibadah dan harus yakin bahwa Allah akan membantu memberikan solusi dengan cara-Nya.

Jangan pernah berputus-asa dengan keadaan seperti itu. Jadikan itu sebagai tantangan bagi kamu untuk mewujudkan keluarga sakinah dengan penuh kesabaran dan keikhlasan dalam mencintai. Jangan karena dia seperti itu, kamu terselut emosi untuk melakukan hal yang sama. Pernikahan adalah proses pendewasaan dan setiap masalah harus dihadapi dengan tenang dan lebih mencari solusi dibanding mengikuti emosi. Tidak ada yang saling egois, siapa yang mengerti atau dimengerti terlebih dahulu, yang terpenting adalah kita. Tunjukkan bahwa kamu mencintainya tak hanya ucapan, namun tindakan, dan ingin membuat keluarga ini maju kedepan layaknya kapal yang sedang berlayar, walaupun ada badai, kapal tetap harus jalan sampai tujuan.

Ingatlah ketika suatu masalah dibebankan kepada kita, berarti kita pasti mampu menghadapi dan mengatasinya.

Sesuai dengan firman Allah, “لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا..” Allah tidak membebankan kepada seseorang di luar kemampuannya.(Al Baqoroh:286)

Terakhir, mengutip kata-katanya Pahd Pahdepie di bukunya Sehidup Sesurga, “cinta bukanlah tetang sesuatu atau seseorang yang kita harap-harapkan, cinta bukanlah sesuatu yang mesti kita terka-terka. Cinta adalah sesuatu atau seseorang yang harus kita terima, cinta adalah sesuatu yang harus kita jalani.

Semoga kita semua dalam lindungan Allah Azza Wa jallah

Artikel Terkait