Siapakah Wali Nikah Untuk Wanita Yang Hanya Memiliki Orang Tua Angkat Dan Tidak Memiliki Keluarga?

aku ingin menikahinya

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wr wb

Saya ingin menikahi seorang wanita. Dia hidup tanpa keluarga dan hanya diasuh oleh orang tua angkat yang menemukannya. Saat ini, dia sudah hidup mandiri dan sendiri. Pertanyaan saya, apakah saya boleh menikahi dia tanpa orang tua angkatnya?

Jawaban:

Wa alaikumus salam wa rahmatullah

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,

Adanya wali nikah merupakan syarat sah sebuah pernikahan. Salah penentuan wali nikah bisa menyebabkan pernikahan menjadi tidak sah.
Lalu siapa wali nikah bagi seorang anak angkat?

Dalam hadist Ibnu Abbas “Tidak ada nikah sah tanpa wali” (HR. Ahmad dan Ashab Sunan). Urutan wali adalah sbb :
1. Ayah
2. Kakek (bapaknya ayah)
3. Saudara laki-laki sekandung
4. Saudara laki-laki sebapak(lain ibu)
5. Anak laki-laki dari saudara laki-laki kandung (keponakan)
6. Anak laki-laki dari saudara laki-laki sebapak 7. Paman (saudara laki-laki bapak sekandung)
8. Paman (saudara laki-laki bapak sebapak)
9. Anak laki-laki dari paman (nomor 6 dalam urutan ini)
10. Anak laki-laki dari paman (nomor 7 dalam urutan ini)
Kalau semua wali tidak ada maka walinya adalah pemerintah (dalam hal ini KUA).

Jika diketahui siapa orang tua kandungnya maka wali nikahnya adalah ayah kandungnya, jika ayah kandungnya sudah meninggal, maka mengikuti urutan-urutan yang berhak menjadi wali nikahnya.

Ayah angkat boleh menjadi wali nikah jika ayah kandung dari anak wanita itu pernah menyerahkan perwalian/mewakilkan kepada si ayah angkat maka ayah angkat berhak menjadi wali.
Jika tidak ada kesepakatan tersebut, maka yang berhak menjadi wali adalah hakim/ KUA.

Jika ayahnya tidak diketahui siapa, ayah angkat tidak berhak menjadi walinya, yg menjadi walinya adalah hakim/ KUA.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

وَمَاجَعَلَ أَدْعِيَآءَكُمْ أَبْنَآءَكُمْ ذَلِكُمْ قَوْلُكُم بِأَفْوَاهِكُمْ وَاللهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ . ادْعُوهُمْ لأَبَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللهِ

“Dia (Allah) tidak menjadikan anak-anak angkat kalian sebagai anak-anak kandung kalian. Yang demikian itu hanyalah perkataan kalian di mulut kalian. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya, dan Dia menunjukkan jalan yang benar.” [al-Ahzab/33:4]

Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Dahulu, kami tidak memanggil Zaid bin Haritsah Radhiyallahu ‘anhu kecuali dengan panggilan Zaid bin Muhammad, sampai turunnya ayat ‘Panggillah anak-anak angkat tersebut dengan memakai nama bapak-bapak mereka, itulah yang lebih adil di sisi Allah”. [al-Ahzab/33:5]

Ayah angkat tidak mempunyai hak apapun atas anaknya, baik dari segi nasab, waris, kewalian, maupun dari segi mahrom.

Semoga jawabannya bisa membantu.


Artikel Terkait